Membaca yang Tak Tertulis

Dalam Main-main dengan Teks, Hernowo mengutip pernyataan Dr. Etty, "Menulis karya ilmiah, pada dasarnya adalah cara ilmuwan berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi yang baik bisa membuat yang diajak berkomunikasi mengerti apa yang dimaksudkan oleh komunikator. Sama halnya, penulis yang baik harus bisa membuat pembaca mengerti apa yang penulis maksudkan tanpa arti ganda. Dengan demikian, penulis harus lebih dahulu memahami apa makna yang akan disampaikan kepada pembaca sebelum menuangkan gagasannya ke atas kertas. Dengan kata lain, menulis adalah kegiatan berpikir selain berkomunikasi."
Gini ya. Eh, gitu...toh? Banyak banget pengetahuan baru yang kita dapat dalam berinteraksi dengan banyak jenis manusia. Coba pahami sifat dan sebab dari reaksi-reaksi tak terduga. Dan kita…baru sadar apa yang sebenarnya dipikirkan oleh mereka setelah dibahasakan dengan sejujur-jujurnya.
Kenapa tiba-tiba marah? Tiba-tiba menangis? Eh, gak lama…ketawa lagi.
Aku coba membaca lagi teori Dr. Etty di atas. Komunikasi. Teori tersebut tak hanya terkait komunikasi dalam bentuk tulis, tapi juga bentuk lisan dan bahasa tubuh. Kunci efektifitas dalam komunikasi itu adalah jujur.
Mengungkapkan pengalaman, ide, rasa, dan perasaan secara lugas adalah jujur. Membuat orang lain memahami apa yang kita alami dan rasakan persis seperti apa adanya adalah jujur. Tak perlu kata kiasan karena yang diperlukan hanya keberanian. Keberanian membahasakannya secara tulis atau lisan tanpa takut dinilai aneh. Genuine.
So…kalau dalam interaksi kita ditemukan banyak keganjilan ya tidak apa-apa. Itulah proses belajar dan usaha memahami. Hidup ini ternyata berwarna dan tak hanya dihuni oleh satu jenis manusia. Mengingat interaksi ini akan menjadi amat sangat intens, memahami dan menerima berbagai keganjilan sebagai bagian yang wajar merupakan tugas harian :p.
Terima kasih sudah jujur. Terima kasih sudah tanamkan percaya, bahwa semua bisa berbahasa. Insyaallah, kelak kita dapat menafsirkan makna tersirat lebih baik lagi, mengapresiasi pengalaman sebagai bagian berharga. Dan bisu? Hm…pada akhirnya, akan kita temukan masa ketika kata tak perlu lagi.

silakan...
1 Comments:
Assalamualaikum, maaf nih sudah gak mampir ke sini.
Setuju deh, ayo terus menulis yah.
Post a Comment
<< Home